Rabu 11 Oct 2023 21:48 WIB

Media Sosial Dihujani Berita Palsu Konflik Palestina-Israel, dari Video Lawas Hingga Gim

Banyaknya video yang beredar di media sosial makin sulitkan mengetahui fakta aslinya.

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Friska Yolandha
 An Israeli artillery unit fires towards Gaza along the border in southern Israel, 11 October 2023. More than 1,200 Israelis have been killed and over 2,800 others injured, according to the Israel Defense Forces (IDF), after the Islamist movement Hamas launched an attack against Israel from the Gaza Strip on 07 October. More than 3,000 people, including 1,500 militants from Hamas, have been killed and thousands injured in both Gaza and Israel since the conflict erupted, according to Israeli military sources and Palestinian officials.
Foto: EPA-EFE/ATEF SAFADI
An Israeli artillery unit fires towards Gaza along the border in southern Israel, 11 October 2023. More than 1,200 Israelis have been killed and over 2,800 others injured, according to the Israel Defense Forces (IDF), after the Islamist movement Hamas launched an attack against Israel from the Gaza Strip on 07 October. More than 3,000 people, including 1,500 militants from Hamas, have been killed and thousands injured in both Gaza and Israel since the conflict erupted, according to Israeli military sources and Palestinian officials.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Platform teknologi berjuang untuk membendung gelombang misinformasi seputar permusuhan Palestina-Israel setelah membatalkan kebijakan moderasi konten. Gelombang misinformasi tersebut  mulai dari akun palsu yang menyamar sebagai jurnalis hingga gim video bertema perang yang memicu narasi palsu.  

Walaupun peristiwa-peristiwa besar di dunia biasanya memicu banjir kebohongan, para peneliti mengatakan skala dan kecepatan penyebaran misinformasi secara daring setelah serangan mematikan akhir pekan lalu terhadap Israel oleh kelompok militan Palestina Hamas tidak seperti sebelumnya. 

Baca Juga

Dilansir Japan Today, Rabu (11/10/2023), para ahli mengatakan konflik tersebut memberikan studi kasus yang suram tentang berkurangnya kemampuan platform terkemuka seperti Facebook milik Meta dan X untuk memerangi informasi palsu dalam iklim pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pemotongan biaya yang telah menghancurkan kepercayaan dan keselamatan tim.

Terkait X, yang memperburuk masalah pada X milik Elon Musk, khususnya, adalah serangkaian tindakan kontroversial seperti pemulihan akun yang mendorong konspirasi palsu dan program pembagian pendapatan iklan dengan pembuat konten yang menurut para peneliti memberi insentif pada keterlibatan, bukan akurasi.

Para ahli khawatir langkah-langkah ini akan meningkatkan risiko misinformasi yang memicu dampak buruk di dunia nyata, memperkuat kebencian dan kekerasan terutama dalam skenario krisis yang berkembang pesat seperti yang terjadi di Israel dan Gaza. 

Andy Carvin, dari Digital Forensic Research Lab (DFRLab) di Atlantic Council, kepada AFP mengatakan platform media sosial sedang berjuang untuk mengikuti arus misinformasi dan hasutan untuk melakukan kekerasan. 

Menurut dia, ini adalah tren yang telah berkembang selama beberapa waktu, dan menjadi lebih buruk lagi ketika PHK berdampak pada kepercayaan dan keselamatan tim, sehingga menghambat kemampuan mereka untuk mengatasi kekacauan. 

“Dan dalam kasus X, perubahan pada platform ini telah benar-benar menghancurkan apa yang sebelumnya merupakan salah satu kekuatan terbesarnya— memantau berita terkini dan membantu pengguna memisahkan fakta dari fiksi,” ujar Carvin. 

Peneliti misinformasi mengatakan pengguna media sosial dibombardir dengan foto-foto pertempuran palsu, video-video lama dari Suriah yang dibuat ulang agar terlihat seperti diambil dari Gaza, dan rekaman gim video bertema konflik yang dianggap sebagai adegan serangan Hamas. 

Sebuah gambar yang beredar daring....

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement