Senin 02 Oct 2023 19:16 WIB

Ramai Dibicarakan, Apa Itu Doxing dan Bagaimana Cara Mencegahnya?

Doxing adalah masalah serius yang sangat mudah dilakukan.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Natalia Endah Hapsari
Doxing merupakan tindakan membocorkan informasi pribadi dan sensitif mengenai seseorang kepada publik yang dilakukan secara daring dan tanpa persetujuan.
Foto: Unsplash
Doxing merupakan tindakan membocorkan informasi pribadi dan sensitif mengenai seseorang kepada publik yang dilakukan secara daring dan tanpa persetujuan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA---Doxing merupakan tindakan membocorkan informasi pribadi dan sensitif mengenai seseorang kepada publik yang dilakukan secara daring dan tanpa persetujuan. Tindakan yang sangat merugikan ini biasanya dilakukan untuk mengusik, mengancam, atau membalaskan dendam.

"Doxing juga bisa merujuk pada tindakan membongkar identitas asli di balik akun anonim dan membocorkan identitas asli orang tersebut secara daring," jelas Avast melalui laman resmi mereka, Senin (2/10/23).

Baca Juga

Secara umum, kata doxing sebenarnya merupakan kependekan dari dropping documents. Istilah ini dulu kerap digunakan untuk merujuk pada tindakan mengumpulkan informasi pribadi seseorang yang dilakukan oleh peretas.

Jenis informasi pribadi dan sensitif yang disebarkan dalam doxing bisa sangat beragam. Sebagian di antaranya adalah alamat rumah, lokasi pekerjaan, nomor telepon, nomor KTP, hingga alamat surel.

Pelaku doxing dapat memperoleh data-data pribadi dan sensitif milik korban melalui beberapa cara. Salah satunya adalah mengumpulkan "remah-remah" informasi mengenai korban yang tersebar di internet lalu mengumpulkannya menjadi satu informasi utuh yang bisa membongkar identitas asli di balik akun anonim. Beberapa contoh informasi "remah-remah" adalah nama, alamat rumah, alamat surel, dan nomor telepon.

Cara lain untuk memperoleh data pribadi dan sensitif milik korban doxing adalah melalui transaksi informasi pribadi. Transaksi jual-beli ini biasanya dilakukan secara daring melalui dark web.

Korban doxing bisa mengalami kerugian yang bersifat ringan hingga berat dan membahayakan. Dalam bentuk yang ringan, pelaku bisa mendaftarkan email korban agar mendapatkan banyak email spam. Hal ini bisa membuat kotak pesan korban selalu dibanjiri oleh spam.

Sedangkan dalam kasus yang lebih berat, doxing bisa dilakukan dengan tujuan untuk mengusik, mengintimidasi, atau bahkan mengancam korban. Oleh karena itu, korban doxing berisiko mengalami penguntitan, kekerasan fisik, kehilangan privasi, perundungan daring, hingga kehilangan pekerjaan.

Sebagian orang mungkin mengira bahwa tindakan doxing hanya ditujukan pada sosok-sosok terkenal di dunia nyata maupun dunia maya. Padahal, di era digital seperti saat ini, semua orang bisa berisiko menjadi korban doxing.

"Terlepas dari latar belakang, profesi, atau penggunaan media sosial mereka," ungkap Minc Law melalui laman resminya, seperti dikutip Republika.

Mengingat dampak doxing yang sangat merugikan, upaya pencegahan penting untuk dilakukan. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menekan risiko terkena serangan doxing adalah meminimalisir ketersediaan informasi pribadi di internet.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah menyembunyikan alamat IP saat berselancar di dunia maya dengan menggunakan VPN atau proxy. Upaya pencegahan yang juga dapat membantu adalah meningkatkan keamanan pada akun-akun media sosial dan menggunakan identitas anonim saat di dunia maya.

Melalui laman resminya, GlobalSign menganjurkan agar pengguna media sosial selalu berhati-hati dalam membuat unggahan. Pastikan bahwa semua unggahan yang dibuat di media sosial tidak memuat banyak informasi pribadi.

Orang-orang juga dapat meminta Google untuk menyembunyikan informasi pribadi mereka agar tidak muncul di laman hasil pencarian. Orang-orang bisa melakukan hal ini melalui proses sederhana yang dilakukan dengan mengisi form secara daring.

Upaya pencegahan lain yang tak kalah penting adalah menghindari kuis-kuis daring yang muncul di internet. Kuis-kuis daring yang tampak menarik ini biasanya akan meminta nama dan alamat email dari pengguna.

Selain itu, orang-orang yang kerap berselancar di dunia maya perlu mengubah password mereka di berbagai platform secara berkala. Mengubah password setiap bulan bisa menciptakan kode-kode kompleks yang akan mempersulit peretas untuk masuk ke dalam akun pengguna.

"Doxing adalah masalah serius yang sangat mungkin dilakukan karena adanya kemudahan akses terhadap informasi pribadi di internet," ujar GlobalSign. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement