Ahad 21 May 2023 16:09 WIB

Krisis Iklim, Populasi Lebah di Indonesia Menurun

Krisis iklim menyebabkan banyak perubahan di segala bidang, termasuk kehidupan lebah.

Fenomena penurunan populasi lebah di Indonesia.
Foto: Pixabay
Fenomena penurunan populasi lebah di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, PALEMBANG -- Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI) menggandeng akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Pandjajaran dalam Forum Dialog Penyerbuk 2023 membahas fenomena penurunan populasi lebah di Indonesia. Ketua Pelaksana Forum Dialog Penyerbuk 2023 Damayanti Buchori dalam keterangan yang diterima di Palembang, Ahad (21/5/2023), mengatakan saat ini dunia sedang mengalami krisis iklim yang menyebabkan perubahan besar di segala bidang kehidupan.

Pergeseran musim dan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem merupakan bagian dari dampak krisis iklim yang memengaruhi kehidupan berbagai flora, fauna, dan manusia. Damayanti menyatakan, salah satu komponen ekosistem yang sangat terpengaruh oleh kondisi ini adalah serangga. 

Baca Juga

Sekilas, serangga dianggap kurang penting dalam kehidupan ini, namun sebenarnya serangga memiliki peran penting antara lain sebagai penyerbuk, dekomposer, maupun predator yang memangsa hama-hama pengganggu tanaman pertanian. Hilangnya serangga akan mengganggu tatanan dalam ekosistem.

Belakangan, berbagai negara telah melaporkan adanya penurunan populasi lebah secara global (global pollinator/bee decline). Beberapa spesies lebah liar yang berperan penting dalam penyerbukan, seperti Bombus spp, telah mengalami penurunan kelimpahan relatif hingga 96 persen dan rentang geografisnya mengalami penyusutan sebesar 23-37 persen (Cameron et al 2011). 

Keanekaragaman lebah di Inggris dan Belanda juga dilaporkan mengalami penurunan secara signifikan di sebagian besar bentang alam (Biesmeijer et al 2006). Banyak faktor yang menyebabkan penurunan populasi lebah di dunia, antara lain perubahan iklim, hilangnya habitat, deforestasi, dan penggunaan produk perlindungan tanaman (prolintan) yang tidak berkelanjutan. 

Penurunan populasi lebah di berbagai belahan dunia sangat mengkhawatirkan, karena peran lebah sebagai penyerbuk sangat penting baik dalam bidang pertanian, pelestarian hutan, maupun di berbagai ekosistem lainnya. Menyikapi situasi yang mengkhawatirkan tersebut, pada tahun 2017 United Nation (UN) atau Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mencanangkan World Bee Day atau Hari Lebah Sedunia, pada tanggal 20 Mei. World Bee Day atau Hari Lebah Sedunia adalah upaya PBB untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya penyerbuk, ancaman yang dihadapi, dan kontribusinya terhadap pembangunan berkelanjutan

Di sektor pertanian, penurunan jumlah lebah akan berdampak pada penurunan produksi pangan dunia. Lebah merupakan penyerbuk paling produktif dan beragam di sebagian besar dunia, dengan lebih dari 20.000 spesies yang tercatat (Klein et al 2007). Melakukan restorasi habitat bagi penyerbuk merupakan bagian dari regenerative agriculture (pertanian regeneratif) yang perlu digalakkan. Pendekatan pertanian regeneratif memiliki potensi untuk membantu melimpahkan kembali ekosistem di sekitarnya dengan serangga, mamalia, dan burung yang bermanfaat.

Peningkatan kelimpahan keanekaragaman hayati di atas tanah (above-ground biodiversity) yang dapat dimungkinkan melalui pendekatan pertanian regeneratif antara lain menciptakan habitat bagi penyerbuk dan satwa liar dengan menanam aneka ragam tanaman di tepi lahan atau dengan pohon dan semak di sekitar batas lahan pertanian. Selain berperan penting dalam produksi pangan, lebah juga memiliki nilai ekonomi bagi peternak. Hal ini dikarenakan lebah dapat menghasilkan madu, propolis, bee polen dan wax atau lilin.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement