Rabu 15 Mar 2023 16:27 WIB

Robot Ini Bantu Tingkatkan Kesehatan Mental Karyawan

Para peneliti juga memprogram robot untuk memiliki kepribadian.

Rep: Santi Sopia/ Red: Natalia Endah Hapsari
 Robot tertentu dapat meningkatkan kesejahteraan mental di tempat kerja (ilustrasi)
Foto: VOA
Robot tertentu dapat meningkatkan kesejahteraan mental di tempat kerja (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Studi menemukan bahwa robot tertentu dapat meningkatkan kesejahteraan mental di tempat kerja. Persepsi tentang seberapa efektif bantuan mesin, sebagian besar bergantung pada seperti apa tampilan robot itu, menurut penelitian tersebut.

Peneliti University of Cambridge melakukan studi di sebuah perusahaan konsultan teknologi menggunakan dua pelatih kesehatan robot yang berbeda. Sebanyak 26 karyawan mengambil bagian dalam sesi kesejahteraan mingguan yang dipimpin robot selama empat pekan.

Baca Juga

Meskipun robot memiliki suara, ekspresi wajah, dan perilaku yang identik, penampilan fisik robot ditemukan telah memengaruhi cara orang berinteraksi. Peserta yang melakukan latihan kebugaran dengan robot mirip mainan, mengakui bahwa mereka lebih merasakan hubungan dengan "pelatih" daripada orang yang menghadapi robot mirip humanoid.

Para peneliti mengatakan bahwa persepsi tentang robot dipengaruhi oleh budaya populer, di mana satu-satunya batasan yang dapat dilakukan robot hanyalah imajinasi.

Namun saat berhadapan dengan robot di dunia nyata, sering kali tidak sesuai harapan. Menurut para peneliti, karena robot terlihat seperti mainan yang lebih sederhana, orang mungkin memiliki ekspektasi lebih rendah dan akhirnya menemukan robot yang lebih mudah untuk diajak bicara dan terhubung.

Sementara bagi mereka yang bekerja dengan robot humanoid, ditemukan punya ekspektasi yang tidak sesuai kenyataan, karena robot tidak mampu melakukan percakapan interaktif.

Para peneliti berkolaborasi dengan perusahaan teknologi lokal Cambridge Consultants untuk merancang dan menerapkan program kesejahteraan di tempat kerja menggunakan robot. Selama empat minggu, karyawan dipandu melalui empat latihan kesejahteraan yang berbeda oleh salah satu dari dua robot, yakni, robot QTRobot (QT) atau robot Misty II (Misty).

QT adalah robot humanoid seperti anak kecil dan tingginya sekitar 90cm, sedangkan Misty adalah robot mirip mainan setinggi 36cm. Keduanya memiliki layar wajah yang bisa diprogram dengan ekspresi wajah berbeda.

Dr Micol Spitale, penulis pertama makalah tersebut, mengatakan bisa jadi karena robot Misty lebih seperti mainan, maka menjadi sesuai dengan harapan peserta.

“Tapi karena QT lebih humanoid, mereka mengharapkannya berperilaku seperti manusia, yang mungkin menjadi alasan mengapa peserta yang bekerja dengan QT sedikit kewalahan,” kata dia, dikutip dari laman Evening Standard, Rabu (15/3/2023).

Para peneliti juga memprogram robot untuk memiliki kepribadian seperti pelatih, dengan keterbukaan dan ketelitian yang tinggi. Profesor Hatice Gunes, dari Departemen Ilmu dan Teknologi Komputer Cambridge, yang memimpin penelitian tersebut, mengatakan tanggapan paling umum yang fidapatkan dari peserta adalah harapan mereka terhadap robot tidak sesuai dengan kenyataan. “Kami memprogram robot dengan skrip, tetapi para peserta berharap akan ada lebih banyak interaktivitas ungkap Gunes.

Sangat sulit untuk membuat robot yang mampu melakukan percakapan alami. Perkembangan baru dalam model bahasa, benar-benar dapat bermanfaat dalam hal ini.

Rekan penulis Minja Axelsson mengatakan persepsi tentang bagaimana robot seharusnya terlihat atau berperilaku mungkin menghambat penggunaan robotika lada area di mana itu dapat berguna. Temuan ini dipresentasikan di ACM/IEEE International Conference on Human-Robot Interaction in Stockholm. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement