Senin 02 Aug 2021 09:15 WIB

AS Kembalikan 17 Ribu Artefak Kuno Irak

Sebagian besar artefak ini dijarah dari Museum Irak di Baghdad selama invasi AS.

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle
Immigration and Customs Enforcement-ICE/AP Photo/picture alliance
Immigration and Customs Enforcement-ICE/AP Photo/picture alliance

Sejarawan asal Irak, Abdullah Khorsheed Qader, telah bekerja di bidang arkeologi sejak tahun 2000, ketika ia memulai gelar masternya di Universitas Salah-al-Din di Erbil, Irak utara. Di sana, karier akademisnya meningkat menjadi profesor di Departemen Arkeologi.

Sebagai seorang cendekia dan direktur di Institut Konservasi Barang Antik dan Benda Warisan Irak, Qader sangat gembira ketika mengetahui negaranya akan mendapatkan kembali harta karun kuno milik mereka dari Amerika Serikat (AS).

"(Saya) merasa luar biasa dan penuh harapan karena tanggapan positif dari Amerika Serikat," katanya kepada DW dalam sebuah wawancara lewat email.

Sekitar 17 ribu artefak akan dikembalikan

Pada Rabu (28/7), AS mengumumkan akan mengembalikan 17 ribu artefak arkeologi ke Irak. Benda-benda tersebut ada yang berusia sekitar 4.000 tahun dan berasal dari periode Sumeria.

Artefak kuno ini pada hari Kamis (29/7) telah dikembalikan ke Irak dengan pesawat yang juga menerbangkan Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi, yang saat itu berada di Washington DC untuk bertemu Presiden AS Joe Biden.

Menyebut restitusi itu sebagai hal yang "belum pernah terjadi sebelumnya", Menteri Kebudayaan Irak Hassan Nazim mengatakan, ini "pengembalian barang antik terbesar ke Irak." Ini hasil dari upaya diplomasi selama berbulan-bulan oleh otoritas Irak lewat kedutaan mereka di Washington, kata Nazim dalam sebuah pernyataan pers.

Pada 2018, Pemerintah Inggris mengembalikan benda-benda kuno serupa yang dijarah setelah invasi Amerika.

Dicuri selama masa invasi AS

"Sebagian besar artefak ini dijarah dari Museum Irak di Baghdad selama invasi AS," kata Elizabeth Stone, arkeolog dan profesor antropologi di Universitas Stony Brook di New York, kepada DW.

Profesor Stone telah menjadi bagian dari berbagai ekspedisi arkeologi ke Irak, termasuk ekspedisi yang terkenal pada tahun 2012, di mana ia dan timnya menggali di dekat situs Ur, yang disebut-sebut sebagai kampung halaman Nabi Ibrahim.

Menurut Stone, benda-benda ini dibawa keluar dari Irak lewat perdagangan ilegal barang antik. Beberapa benda antik telah disita oleh petugas bea cukai, tetapi banyak juga yang lolos dan dibeli oleh Cornell University dan Hobby Lobby yakni jaringan toko yang menjual barang seni dan kerajinan, ujar Elizabeth Stone.

Hobby Lobby baru-baru ini jadi berita setelah terungkap bahwa jejaring bisnis benda seni itu mendapatkan sebuah tablet langka dengan ukiran dalam tulisan paku, bertuliskan sebagian dari cerita Epik Gilgamesh yang melegenda. Benda itu dibeli untuk dipajang di Museum of the Bible di Washington DC. Mueseum ini sendiri didanai oleh keluarga David Green, pendiri Hobby Lobby.

Pada 27 Juli, pengadilan New York memerintahkan penyitaan benda tersebut, yang dilaporkan dibeli oleh seorang pedagang barang antik Amerika dari keluarga seorang pedagang koin di London, kata Departemen Kehakiman AS dalam sebuah pernyataan.

"Penjual barang antik dan seorang ahli tulisan paku dari AS mengirimkan lempengan tablet ini ke Amerika Serikat melalui pos internasional tanpa menyatakan isinya, sebagaimana yang dipersyaratkan. Setelah tablet diimpor dan dibersihkan, para ahli tulisan paku mengenalinya sebagai bagian dari Epik Gilgamesh. Tablet itu berukuran sekitar 15 x 12 sentimeter dan ditulis dalam bahasa Akkadia," menurut pernyataan pers.

Epik Gilgamesh

Wiracarita Gilgamesh atau Epik Gilgamesh adalah rangkaian puisi epik dari zaman Sumeria kuno yang dianggap sebagai salah satu karya sastra tertua di dunia. Epic Gilgamesh dan beberapa ribu objek antik lainnya termasuk dalam benda artefak arkeologi penting terbesar yang dicuri dari Irak setelah invasi pimpinan AS tahun 2003.

Penggalian ilegal, pencurian, dan penyelundupan artefak sejarah merupakan masalah yang terus berlanjut terutama di Irak dan Suriah. Para pedagang pasar gelap, penyelundup, dan anggota ISIS memanfaatkan situasi kacau di wilayah ini untuk dengan mudah menemukan barang antik dan menjualnya ke luar negeri.

Irak berupaya pulihkan lembaga arkeologi setelah invasi

Para arkeolog di Irak seperti Qader senang bahwa upaya untuk mengembalikan harta karun tersebut telah membuahkan hasil. "Kontak Irak dengan pihak Amerika memperjelas bahwa barang antik yang diselundupkan berada di tangan Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika yang aman," kata Qader.

Pejabat kedutaan telah berkomunikasi selama bertahun-tahun untuk memulihkan potongan-potongan artefak ini dan "akhirnya ini menjadi kenyataan," tambah Qader.

Dia berharap seluruh dunia juga akan turun tangan dan membantu memulihkan artefak lain yang hilang. Sementara itu, para arkeolog dan rekan-rekannya di Irak saat ini sibuk meletakkan dasar-dasar untuk membangun kembali lembaga arkeologi yang rusak setelah perang dan konflik selama bertahun-tahun.

Bersama dengan organisasi AS seperti Smithsonian Institution dan University of Delaware, Qader yang juga adalah direktur Institut Konservasi Barang Antik dan Benda Warisan Irak, melatih para profesional muda dan mendidik masyarakat tentang arkeologi.

Salah satu tujuan penting dari programnya adalah "memulihkan kepercayaan diri pada komunitas Museum Irak dan para arkeolog profesional dengan membangun dan memperkuat kembali program konservasi nasional untuk warisan budaya," ujar Qader.

ae/yp

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement