Sabtu 19 Nov 2022 16:54 WIB

Kepala BRIN: Riset di Indonesia Jalan di Tempat 50 Tahun Terakhir

Kemajuan riset di Indonesia dipengaruhi faktor SDM yang unggul.

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Indira Rezkisari
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko.
Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, mengungkapkan, riset di Indonesia saat ini masih jalan di tempat. Hal itu disebabkan oleh adanya permasalahan fundamental riset di Indonesia, yakni rendahnya sumber daya manusia (SDM), infrastruktur, dan anggaran yang tercecer di berbagai lembaga penelitian dan pengembangan (litbang).

"Kita harus akui ada sesuatu yang kurang. Selama 50 tahun ini dari tahun 70-an itu, Malaysia bergerak cepat, Thailand juga bergerak cepat. Tapi sayangnya kita itu seperti jalan di tempat," kata Handoko dilansir dari laman BRIN, Sabtu (19/11/2022).

Baca Juga

Menurut Handoko, riset yang masih jalan di tempat itulah yang menjadi pemikiran dasar dari lahirnya keputusan politik presiden untuk membentuk BRIN. Dia menjelaskan, BRIN dibentuk untuk memecahkan tiga permasalahan fundamental riset di Indonesia.

Dari tiga komponen itu, kata Handoko, SDM yang berperan paling besar. Saat ini, menurut dia, jumlah SDM unggul masih sedikit. Padahal, Indonesia memiliki potensi dengan jumlah SDM yang besar. Dia melihat Indonesia masih punya banyak pekerjaan rumah dalam mencetak SDM unggul.

"Kita masih punya banyak PR dalam mencetak SDM unggul. Jadi kita harus memperbanyak percepatan juga untuk memperbaiki SDM Unggul yang memiliki kapasitas dan kompetensi," ujar dia.

Handoko megatakan, Indonesia tidak boleh lagi mengulangi kesalahan yang sama dengan hilangnya generasi periset unggul. Menurut dia, sejak Indonesia merdeka, bangsa ini pernah mengalami tiga kali kehilangan generasi periset. Pertama, saat Indonesia merdeka dengan kehilangan periset yang mayoritas orang Belanda dan orang pribumi masih belum siap.

Kedua, saat setelah Gerakan 30S PKI, di mana banyak orang yang dikirim oleh Bung Karno ke berbagai negara, dan tidak bisa kembali karena situasi politik. Ketiga, saat era Pak Habibie yang mengirimkan ribuan orang belajar ke berbagai negara. Bedanya, saat mereka kembali ke Indonesia, sistem pendukung belum siap sehingga praktis hanya 30 persen saja yang tersisa dari ribuan alumni.

Hal itu, kata Handoko, harus menjadi pembelajaran supaya tidak mengulangi hal yang sama. Itu sebabnya BRIN melakukan penguatan sistem pendukung untuk periset, penguatan ekosistem serta infrastrukturnya.

Di antaranya melalui dua program utama BRIN yang sudah dilansir sejak dua tahun lalu, yaitu mobilitas periset dengan delapan skema, dari mulai untuk mahasiswa tingkat akhir S1 sampai lulusan doktor hingga profesor. Kedua hibah riset yang memiliki sembilan skema.

"Itu sebenarnya dibuat untuk mencegah supaya mereka bisa bertahan. Kita sebenarnya juga menarik para diaspora dengan membuka 500 lowongan untuk lulusan PhD setiap tahun. Supaya mereka bisa bertahan, dan alhamdulillah dari sisi supporting system sudah komplet, karena kita sudah mengonsolidasi sumber daya, anggaran dan sebagainya," jelas dia.

"Sehingga kita bisa menyediakan semuanya. Orang tidak lagi bingung tidak punya alat misalnya, tidak bingung anggaran, hibah riset ada semua bidang," sambung Handoko.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement